Rabu, 23 Mei 2018

Jaga 4 Pilar Melalui Media Sosial



Melihat berbagai fenomena yang terjadi belakangan ini membuat hati saya sedih. Betapa tidak, kita selalu merasakan riah-riuh kacau perpolitikan bangsa yang menurut saya keberadaanya atau cara mainnya kurang sehat serta kurang mendidik masyarakat. Para tokoh-rokoh politisi kita dalam memperebutkan kursi empuknya banyak mengandalkan cara-cara yang kurang pantas. Berbagai isu negatif ditebarkan ke pihak lawan dengan tujuan menjatuhkan yang bersangkutan. Korban dari berbagai isu negatif ini sejatinya tidak lain adalah masyarakat sendiri. Mereka bisa terjebak dalam isu yang belum sepenuhnya benar dan akhirnya mereka percaya terhadap hal tersebut. Sungguh kasihan bukan!

Pilpres 2014 lalu disebut-sebut sebagai cikal bakal dari lahirnya isu-isu kontraproduktif ini. Kemudian berlanjut ke Pilkada DKI beberapa waktu lalu dan masih berlanjut hingga saat ini. Bahkan banyak kalangan yang menilai hal serupa juga akan terjadi pada Pilpres 2019 mendatang.

Mereka yang menggunakan isu ini, sebut saja gerbong A dan gerbong B menyebarkan isu negatif ini dimanapun. Baik di media televisi, koran ataupun media sosial. Isu negatif ini dampaknya akan menimbulkan keributan di masyarakat. Saya menilai keributan semacam ini tentu bukanlah perkara yang sederhana, jika dibiarkan ia akan merebak keseluruh sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Dan, tahap itu sudah mulai kita temukan.

Di era digital sepertu sekarang, sebagian besar tentu telah mengenal media sosial. Bersencar di sosial media, kita seperti mengarungi ombak liar yang entah ujungnya dimana. Setiap fenomena yang muncul disana kita selalu mempunyai pandangan atau perspektif masing-masing. Tidak ada yang salah memang. Setiap orang mempunyai cara pandang sendiri dan sudah ada hak pula untuk mengungkapkannya. Tapi disatu sisi, saya melihat adanya ketidaksesuaian dalam menyampaikan pendapat di sosial media. Setiap orang yang berkomentar disana seolah-olah mempunyai kebenaran sendiri tanpa menghiraukan perspektif orang lain.

Lebih dalam lagi dalam persoalan ini adalah dapat menimbulkan sebuah perpecahan. Terlebih sekarang sudah banyak kita menemukan netizen yang sudah tidak ragu lagi dalam menyebutkan kata "goblok" ke netizen lain. Bukan hanya itu, kata bodoh, ngaca, najis, kafir, dan berbagai kata-kata tidak sepantasnya telah banyak hadir menghiasi dinding-dinding beranda. Bagi saya pribadi, ini bukan barang baru, justru benda lama yang belum terselesaikan. Hanya saja saat ini merebak di media sosial dimana setiap orang bisa berargumen semaunya sendiri.

Untuk menghindari konten-konten kontraproduktif seperti ini perlu dilakukan upaya bersama sehingga dapat teratasi dengan baik. Beberapa akun-akun sosial media sudah ada yang mengabarkan konten-konten yang positif dalam pembangunan bangsa. Sebut saja akun Good News From Indonesia dan Indonesia Baik. Dua akun media sosial ini secara terus menerus saya cermati berhasil memberikan edukasi yang positif terhadap masyarakat. Namun disamping itu, masih ada ratusan bahkan ribuan akun media yang kontraproduktif.

Demi mengatasi ini, saya memberikan apresiasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI). Dengan melihat persoalan semacam ini mereka terjun ke berbagai kota untuk menyuarakan konten-konten positif kepada para blogger dan netizen. Pada 10 Mei kemarin, MPR RI menyambangi para netizen dan blogger yang ada di Bali yang bertempat di Hotel Bintang Bali Jalan Dewi Kartika, Kuta, Badung. DI acara ini sebanyak 55 blogger dan netizen berkumpul. Hadir pula di acara Sesjen MPR Ma’ruf Cahyono yang memberikan beberapa hal mengenai konten-konten postif yang perlu diunggah ke media sosial.

Selain itu, Sesjen juga menyampaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu diketahui berbagai hal mengenai pentingnya pemahaman mengenai empat pilar kebangsaan yang selama ini dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia. Empat pilar yang dimaksud yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Jikalau kita hubungkan dengan fenomena yang terjadi belakangan ini, empat pilar kebangsaan ini keberadaannya mulai ditinggalkan oleh segelintir golongan. Buktinya telah hadir kelompok-kelompok intoleran yang berencana mengganti keberadaan dasar negara. Tentu kelompok ini harus kita tentang mengingat keberadaan empat pilar ini sudah final dan dirumuskan secara mendalam oleh para founding father.

Menjaga empat pilar itu adalah tugas kita Bersama. Tugas setiap masyarakat Indonesia. Pun bagi para netizen dan blogger yang terus bergerilya di media sosial. Semoga keberadaan media sosial kita kedepan mampu mengantarkan nilai-nilai positif bagi kemajuan bangsa Indonesia dengan tetap berpegang teguh pada empat pilar kebangsaan. (sui)

Rabu, 11 Januari 2017

Kisah “Empat Pawana” Membangun Negeri




Judul Buku                  : Mahamimpi Anak Negeri
Penulis                         : Suyatna Pamungkas
Editor                          : Antik
Desain Sampul dan Isi : Rendra TH
Penata Letak               : Tri Mulyani Ch.
Proofreader                 : Hartanto
Penerbit                       : Metamind, Creatif Imprint of Tiga Serangkai
Tahun Terbit                : Juni 2013
Jenis Buku                   : Fiksi
Tebal                           : x, 438 hlm.; 21 cm
ISBN                           : 978-602-9251-22-7

Kelompok Nelayan Wanasari: Inovasi Dibalik Hadirnya Jalan Tol



Logo Kelompok Nelayan Wanasari Desa Tuban, Kecamatan Kuta, Badung. Kelompok Nelayan yang saat ini sedang menjalankan usaha kepiting bakau. (Sumber : www.ekowisatabali.com)

Terapkan rumus LTK untuk Bangun Empire




Judul Buku      : Ajik Cok: Lihat, Tiru, Kembangkan
Penulis             : A. Bobby Pr.
Penerbit           : Kompas
TahunTerbit     : 2015
Jenis Buku       : Biografi
Tebal               : xii + 252 hlm.; 14 cm x 21 cm
ISBN               : 978-979-709-983-1

Desa Peringsari, Tantangan Menjawab Kemiskinan



Desak Made Rai (53) warga Banjar Dinas Taman Darma, Desa Peringsari, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, terlihat sibuk mengayam bambu di halaman rumahnya. Kedua tangannya terlihat sangat lihai memainkan “tali” anyaman. Dalam sekejap, tali-tali itu mulai terbentuk menjadi sebuah wadah. Ia menyebutnya sok.

Sebuah Mimpi, Bertemu Presiden


Judul Buku      : Pesan Sang Jendral, Aku Ingin Jadi Presiden
Penulis             : Tri Bayu Aribowo
Penerbit           : Dapur Buku
Tahun Terbit    : Mei 2014
Jenis Buku       : Motivasi
Tebal               : 148 halaman