Judul Buku : Mahamimpi Anak Negeri
Penulis
: Suyatna Pamungkas
Editor
: Antik
Desain Sampul dan Isi : Rendra TH
Penata Letak : Tri Mulyani Ch.
Proofreader : Hartanto
Penerbit
: Metamind, Creatif Imprint of Tiga Serangkai
Tahun Terbit : Juni 2013
Jenis Buku : Fiksi
Tebal
: x, 438 hlm.; 21 cm
ISBN
: 978-602-9251-22-7
“if there is a will there is a way”
“Ketika keinginan sudah
menjadi impian, selalu ada jalan untuk mewujudkannya. Kita semua dipanggil
untuk melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Kita pasti bisa untuk
mewujudkan, asalkan serius berjuang. Peribahasa inggris mengatakan if there is a will there is a way”.
Begitulah satu diantara
sekian kalimat yang menginspirasi dalam buku ini. Hampir disetiap halaman, kita
dapat menjumpai petikan motivasi yang dapat menggelorakan semangat bagi setiap
orang yang membacanya. Adalah Suyatna Pamungkas, penulis kelahiran Banyumas
pada tanggal 10 Desember 1986 ini berhasil menulis kisah motivasi dalam novel
yang berjudul Mahamimpi Anak Negeri.
Sebuah kisah tentang empat
anak muda yang tergabung dalam “Empat Pawana” yang ingin membenahi kampung
halamannya, Bukit Bayur. Ialah Elang, Tegar, Darwis, dan Waris. Mereka melihat
Bukit Bayur sebagai desa yang jauh dari peradaban. Masyarakatnya yang buta
huruf menyebabkan mereka ditipu oleh perusahaan hutan. Ladang mereka ditanami
pohon pinus untuk dicari getahnya. Tak
tanggung-tanggung, perusahaan itu menyewa lahan masyarakat selama seratus
tahun. Tentu dengan harga yang sangat murah.
Sementara itu, semua masyarakat
di Bukit Bayur adalah muslim. Namun tiada satupun diantara mereka yang
melaksanakan sholat, apalagi mengaji. Empat Pawana ingin sekali membawa Bukit
Bayur kearah yang lebih baik, mengislamkan dan melepaskannya dari perusahaan
hutan. Sebuah mimpi yang besar bagi anak kecil seperti mereka.
Untuk mewujudkan mimpi
tersebut mereka tidak tinggal diam. Hampir setiap hari mereka bersekolah dengan
berjalan kaki sejauh 40 kilometer. Menuruni bukit, menyeberang sungai, dan
menaiki lembah bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka. Sungguh berbeda dengan
anak-anak lain yang hanya membantu orang tua di ladang untuk menyadap getah
pinus. SDN 1 Atap Sukawera dan SMPN 4 Satu Atap Cilongok menjadi saksi kisah
pilu Empat Pawana dalam menuntut ilmu. Terlebih mereka bukan anak-anak yang
dipandang sebelah mata. Darwin dan Tegar selalu menjadi murid primadona bagi guru-guru.
Pasalnya mereka terus mewakili sekolah untuk mengikuti lomba dan selalu
mendapatakan juara. Semenjak itu, sekolah dengan sebutan ‘satu atap’ selalu
menjadi perhitungan bagi sekolah lain.
Sekolah SMPN 4 Satu
Atap Cilongok ini juga menjadi saksi pertemuan Empat Pawana dengan Senja. Gadis
manis berkerudung ini pidah sekolah dikarenakan orang tuanya meninggal. Kini Senja
tinggal bersama pamannya. Senja pun akhirnya tergabung dalam Empat Pawana. Ia
paling dekat dengan Waris. Keduanya seolah telah menjalin cinta sejati. Namun
pada akhirnya kisah mereka pun kandas dikarenakan pemerintah mempunyai program
transmigrasi. Waris terpaksa meninggalkan Senja demi ikut keluarganya ke
Lampung. Senja berpisah dengan Waris, begitupun Empat Pawana.
Selain sekolah, Empat
Pawana juga selalu belajar mengaji di Wagen Legok. Sebuah desa di seberang
Bukit Bayur. Mereka belajar di sebuah pesantren milik Uztad Ahmad. Setiap malam
mereka terus pergi mengaji. Pada akhirnya Uztad Ahmad pun memberi solusi
tentang keinginan mereka untuk mendirikan masjid di Bukit Bayur. Uztad Ahmad
menyuruh mereka mencari Kyai Nasir, seorang tokoh ulama yang pandai dalam
memperkenal Islam kepada masyarakat. Selepas dari SMPN Satu Atap Cilongok
mereka pun mencari keberadaan Kyai Nasir. Namun pencarian ini tak kunjung berhasil.
Dalam cerita ini
penulis berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dengan sangat apik. Begitu pula
dengan sajian penulisan, cerita, dan konflik dengan sangat tepat. Novel ini
juga disertai dengan berbagi pribahasa pribumi dialek khas Banyumas serta
kecerdasan penulis dalam menyisipkan tokoh-tokoh dunia. Novel sangat pantas
dibaca bagi mereka yang punya mimpi. Bahkan lebih cocok lagi bagi mereka yang
ingin mimpinya terwujud.
Kekurangan buku ini justru terletak pada
sampulnya. Sampul yang kurang menarik sehingga kurang mampu memikat para
pembaca. Padahal cerita didalamnya sangat baik dan menginspirasi. (sui)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar