Rabu, 11 Januari 2017

Kisah “Empat Pawana” Membangun Negeri




Judul Buku                  : Mahamimpi Anak Negeri
Penulis                         : Suyatna Pamungkas
Editor                          : Antik
Desain Sampul dan Isi : Rendra TH
Penata Letak               : Tri Mulyani Ch.
Proofreader                 : Hartanto
Penerbit                       : Metamind, Creatif Imprint of Tiga Serangkai
Tahun Terbit                : Juni 2013
Jenis Buku                   : Fiksi
Tebal                           : x, 438 hlm.; 21 cm
ISBN                           : 978-602-9251-22-7


“if there is a will there is a way”
“Ketika keinginan sudah menjadi impian, selalu ada jalan untuk mewujudkannya. Kita semua dipanggil untuk melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Kita pasti bisa untuk mewujudkan, asalkan serius berjuang. Peribahasa inggris mengatakan if there is a will there is a way”.
Begitulah satu diantara sekian kalimat yang menginspirasi dalam buku ini. Hampir disetiap halaman, kita dapat menjumpai petikan motivasi yang dapat menggelorakan semangat bagi setiap orang yang membacanya. Adalah Suyatna Pamungkas, penulis kelahiran Banyumas pada tanggal 10 Desember 1986 ini berhasil menulis kisah motivasi dalam novel yang berjudul Mahamimpi Anak Negeri.
Sebuah kisah tentang empat anak muda yang tergabung dalam “Empat Pawana” yang ingin membenahi kampung halamannya, Bukit Bayur. Ialah Elang, Tegar, Darwis, dan Waris. Mereka melihat Bukit Bayur sebagai desa yang jauh dari peradaban. Masyarakatnya yang buta huruf menyebabkan mereka ditipu oleh perusahaan hutan. Ladang mereka ditanami pohon pinus untuk dicari getahnya. Tak tanggung-tanggung, perusahaan itu menyewa lahan masyarakat selama seratus tahun. Tentu dengan harga yang sangat murah.
Sementara itu, semua masyarakat di Bukit Bayur adalah muslim. Namun tiada satupun diantara mereka yang melaksanakan sholat, apalagi mengaji. Empat Pawana ingin sekali membawa Bukit Bayur kearah yang lebih baik, mengislamkan dan melepaskannya dari perusahaan hutan. Sebuah mimpi yang besar bagi anak kecil seperti mereka.
Untuk mewujudkan mimpi tersebut mereka tidak tinggal diam. Hampir setiap hari mereka bersekolah dengan berjalan kaki sejauh 40 kilometer. Menuruni bukit, menyeberang sungai, dan menaiki lembah bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka. Sungguh berbeda dengan anak-anak lain yang hanya membantu orang tua di ladang untuk menyadap getah pinus. SDN 1 Atap Sukawera dan SMPN 4 Satu Atap Cilongok menjadi saksi kisah pilu Empat Pawana dalam menuntut ilmu. Terlebih mereka bukan anak-anak yang dipandang sebelah mata. Darwin dan Tegar selalu menjadi murid primadona bagi guru-guru. Pasalnya mereka terus mewakili sekolah untuk mengikuti lomba dan selalu mendapatakan juara. Semenjak itu, sekolah dengan sebutan ‘satu atap’ selalu menjadi perhitungan bagi sekolah lain.
Sekolah SMPN 4 Satu Atap Cilongok ini juga menjadi saksi pertemuan Empat Pawana dengan Senja. Gadis manis berkerudung ini pidah sekolah dikarenakan orang tuanya meninggal. Kini Senja tinggal bersama pamannya. Senja pun akhirnya tergabung dalam Empat Pawana. Ia paling dekat dengan Waris. Keduanya seolah telah menjalin cinta sejati. Namun pada akhirnya kisah mereka pun kandas dikarenakan pemerintah mempunyai program transmigrasi. Waris terpaksa meninggalkan Senja demi ikut keluarganya ke Lampung. Senja berpisah dengan Waris, begitupun Empat Pawana.
Selain sekolah, Empat Pawana juga selalu belajar mengaji di Wagen Legok. Sebuah desa di seberang Bukit Bayur. Mereka belajar di sebuah pesantren milik Uztad Ahmad. Setiap malam mereka terus pergi mengaji. Pada akhirnya Uztad Ahmad pun memberi solusi tentang keinginan mereka untuk mendirikan masjid di Bukit Bayur. Uztad Ahmad menyuruh mereka mencari Kyai Nasir, seorang tokoh ulama yang pandai dalam memperkenal Islam kepada masyarakat. Selepas dari SMPN Satu Atap Cilongok mereka pun mencari keberadaan Kyai Nasir. Namun pencarian ini tak kunjung berhasil.
Dalam cerita ini penulis berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dengan sangat apik. Begitu pula dengan sajian penulisan, cerita, dan konflik dengan sangat tepat. Novel ini juga disertai dengan berbagi pribahasa pribumi dialek khas Banyumas serta kecerdasan penulis dalam menyisipkan tokoh-tokoh dunia. Novel sangat pantas dibaca bagi mereka yang punya mimpi. Bahkan lebih cocok lagi bagi mereka yang ingin mimpinya terwujud.
 Kekurangan buku ini justru terletak pada sampulnya. Sampul yang kurang menarik sehingga kurang mampu memikat para pembaca. Padahal cerita didalamnya sangat baik dan menginspirasi. (sui)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar