Judul
Buku : Pesan Sang Jendral, Aku Ingin
Jadi Presiden
Penulis : Tri Bayu Aribowo
Penerbit : Dapur Buku
Tahun
Terbit : Mei 2014
Jenis
Buku : Motivasi
Tebal
: 148 halaman
“Bagi
sebagian orang, cita-cita hanyalah mimpi.
Bagi
sebagian yang lain cita-cita adalah tujuan hidup”
Seuntaian kalimat
sederhana itu tercantum di dalam sampul buku ini. Sebuah buku motivasi yang
mampu mengantarkan kita dalam menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme dengan
menghormati para pejuang yang telah menyumbangkan jiwa dan raganya demi
kemedekaan bangsa Indonesia. Di dalamnya, buku ini menceritakan mimpi seorang
anak laki-laki yang ingin bertemu presiden untuk menyampaikan pesan dari Panglima
Besar Jenderal Soedirman.
Namanya Bayu, seorang
anak laki-laki yang sedang duduk di bangku sekolah menengah pertama di Kota
Pacitan. Bayu dikenal sebagai anak yang gigih, hampir setiap hari Bayu pergi
dan pulang dari sekolah dengan berjalan kaki. Terkadang dia harus berlari jika
ingin sampai lebih cepat. Bayu hidup bersama ibunya Sumiasih dan kakeknya, Mbah
Jiwo. Mbah Jiwo merupakan seorang kakek pejuang yang dulu pernah menjadi ajudan
dari Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Mbah Jiwo mempunyai
hutang berupa pesan kepada Sang
Jenderal, namun pesan itu tidak kunjung sampai kepada presiden karena
Mbah Jiwo telah berpulang terlebih dahulu. Sebelum meninggal Mbah Jiwo
menyampaikan agar Bayu dapat menyampaikan pesan itu kepada presiden, dan
Bayupun berjanji untuk menyampaikan pesan tersebut.
Suatu hari Bayu harus
pindah bersekolah ke Jawa Timur karena terbesit keadaan. Disana, Bayu tinggal
bersama keluarga Pak Martinus yang merupakan saudara dari ibunya. Di sekolah
yang baru itu Bayu mempunyai banyak teman, dan mereka mendukung Bayu untuk
bertemu dengan presiden. Dari sinilah Bayu akhirnya menemui ide dari
teman-temannya untuk dapat bertemu dengan presiden.
Di dalam cerita ini
penulis juga menyampaikan petikan-petikan motivasi yang mampu menggugah
pembaca. Setiap tulisan dilengkapi dengan gambar sehingga pembaca lebih mudah
dalam menginterpretasikan cerita yang tersaji. Di bagian akhir buku, penulis menyajikan
kata-kata mutiara dari Panglima Besar Jenderal Soedirman. Sayangnya di dalam
ceritanya banyak sekali penulisan yang salah
dan ceritanya sangat sulit untuk dimaknai. (sui)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar