Desak
Made Rai (53) warga Banjar Dinas Taman Darma, Desa Peringsari, Kecamatan Selat,
Kabupaten Karangasem, Bali, terlihat sibuk mengayam bambu di halaman rumahnya.
Kedua tangannya terlihat sangat lihai memainkan “tali” anyaman. Dalam sekejap,
tali-tali itu mulai terbentuk menjadi sebuah wadah. Ia menyebutnya sok.
Sok yang dibuat Made
Rai itu nantinya akan dijual kepada pengepul. Sembari menunggu pengepul datang,
ia biasa menyimpannya terlebih dahulu. Kata dia,
pengepul biasa datang seminggu sekali dengan membawa sebuah mobil pick up, bahkan
bisa lebih dari satu mobil. Pengepul tersebut tidak hanya membeli sok
buatannya, namun juga membeli sok hasil para tetangga di lingkungan sekitar.
Harga satu sok yakni sekitar Rp. 2.000–Rp. 2.800.
Made Rai menuturkan,
harga tersebut sangatlah murah, karena tidak sebanding dengan harga bahan baku
(bambu batangan) yang begitu mahal. Satu bambu bisa dihargai Rp.10 ribu-Rp. 15
ribu. Satu buah batang bambu hanya bisa menghasilkan 10-12 buah sok saja.
Aktivitas pemanfaatan
bambu yang dilakukan oleh Made Rai sudah sejak lama. Wanita kelahiran 1 Juli
1963 ini sudah mulai menganyam bambu sejak berusia remaja. Ia menceritakan,
kegiatan pengolahan bambu menjadi anyaman ini didahului oleh orang tuanya
sendiri. ”Saya dahulu menganyam bambu diajarkan oleh ajik (bapak-red),” tuturnya.
Made Rai tidak sendiri,
hampir semua masyarakat di Banjar Dinas Taman
Darma dan dibeberapa banjar dinas lain menggantungkan hidupnya dari hasil menganyam bambu. Keberadaan bambu di Desa
Peringsari memang sangat melimpah. Tanaman ini dapat tumbuh sepanjang tahun
tanpa mengenal musim.
Kemiskinan
Keberadaan bambu yang
begitu melimpah sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat. Lewat keberadaan
bambu ini sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya, terutama untuk
pemenuhan kebutuhan rumah tangga.
Potensi bambu ternyata
belum mampu membawa masyarakat ke tahap yang lebih sejahtera. Masih banyak dari
mereka yang harus mencari pekerjaan sampingan agar mendapat penghasilan
tambahan.
Hal tersebut dibenarkan
oleh kepala Desa Peringsari, I Wayan Bawa. Bawa, panggilannya, mengatakan ada
sekitar dua ratus-an rumah tangga yang masih dalam status miskin dan
pra-sejahtera. Mereka tersebar di kesepuluh banjar dinas. Dari kesepuluh banjar
dinas tersebut, Banjar Dinas Taman Darma memiliki jumlah keluarga miskin paling
banyak, yakni sekitar 70-80 kepala keluarga (KK).
Menurut Bawa, banyaknya
KK miskin di banjar dinas tersebut disebabkan oleh beberapa hal, salah satu
alasan yakni kurangnya inovasi kerjainan bambu yang dihasilkan. Sehingga, kerajinan
bambu harganya masih tergolong murah.
Segala usaha dalam
mengentaskan kemiskinan sudah diupayakan oleh pemerintah desa. Mereka biasanya
merekomendasikan bantuan yang turun dari pemerintah kabupaten maupun provinsi
agar dibawa ke banjar dinas tersebut. Upaya lain yang dilakukan pemerintah desa
yakni merekomendasikan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan
Masyarakat Universitas Udayana (KKN-PPM Unud) tahun 2016 untuk melaksankan
program pendampingan keluarga di Banjar Dinas Taman Darma. “Diantara sekian
banyak KK miskin di desa kami, paling banyak itu berada di banjar dinas Taman
Dharma. Untuk itulah kami rekomendasikan (mahasiswa) disana”, jelasnya saat
pelaksanaan ujian KKN berlangsung, Minggu, (28/08) di SMP Negeri 2 Selat,
Karangasem. (sui)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar