Rabu, 11 Januari 2017

Desa Peringsari, Tantangan Menjawab Kemiskinan



Desak Made Rai (53) warga Banjar Dinas Taman Darma, Desa Peringsari, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, terlihat sibuk mengayam bambu di halaman rumahnya. Kedua tangannya terlihat sangat lihai memainkan “tali” anyaman. Dalam sekejap, tali-tali itu mulai terbentuk menjadi sebuah wadah. Ia menyebutnya sok.

Sok yang dibuat Made Rai itu nantinya akan dijual kepada pengepul. Sembari menunggu pengepul datang, ia biasa menyimpannya terlebih dahulu. Kata dia, pengepul biasa datang seminggu sekali dengan membawa sebuah mobil pick up, bahkan bisa lebih dari satu mobil. Pengepul tersebut tidak hanya membeli sok buatannya, namun juga membeli sok hasil para tetangga di lingkungan sekitar. Harga satu sok yakni sekitar Rp. 2.000–Rp. 2.800.
Made Rai menuturkan, harga tersebut sangatlah murah, karena tidak sebanding dengan harga bahan baku (bambu batangan) yang begitu mahal. Satu bambu bisa dihargai Rp.10 ribu-Rp. 15 ribu. Satu buah batang bambu hanya bisa menghasilkan 10-12 buah sok saja.
Aktivitas pemanfaatan bambu yang dilakukan oleh Made Rai sudah sejak lama. Wanita kelahiran 1 Juli 1963 ini sudah mulai menganyam bambu sejak berusia remaja. Ia menceritakan, kegiatan pengolahan bambu menjadi anyaman ini didahului oleh orang tuanya sendiri. ”Saya dahulu menganyam bambu diajarkan oleh ajik (bapak-red),” tuturnya.
Made Rai tidak sendiri, hampir semua masyarakat di Banjar Dinas Taman Darma dan dibeberapa banjar dinas lain menggantungkan hidupnya dari hasil menganyam bambu. Keberadaan bambu di Desa Peringsari memang sangat melimpah. Tanaman ini dapat tumbuh sepanjang tahun tanpa mengenal musim.

Kemiskinan
Keberadaan bambu yang begitu melimpah sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat. Lewat keberadaan bambu ini sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya, terutama untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga.
Potensi bambu ternyata belum mampu membawa masyarakat ke tahap yang lebih sejahtera. Masih banyak dari mereka yang harus mencari pekerjaan sampingan agar mendapat penghasilan tambahan.
Hal tersebut dibenarkan oleh kepala Desa Peringsari, I Wayan Bawa. Bawa, panggilannya, mengatakan ada sekitar dua ratus-an rumah tangga yang masih dalam status miskin dan pra-sejahtera. Mereka tersebar di kesepuluh banjar dinas. Dari kesepuluh banjar dinas tersebut, Banjar Dinas Taman Darma memiliki jumlah keluarga miskin paling banyak, yakni sekitar 70-80 kepala keluarga (KK).
Menurut Bawa, banyaknya KK miskin di banjar dinas tersebut disebabkan oleh beberapa hal, salah satu alasan yakni kurangnya inovasi kerjainan bambu yang dihasilkan. Sehingga, kerajinan bambu harganya masih tergolong murah.
Segala usaha dalam mengentaskan kemiskinan sudah diupayakan oleh pemerintah desa. Mereka biasanya merekomendasikan bantuan yang turun dari pemerintah kabupaten maupun provinsi agar dibawa ke banjar dinas tersebut. Upaya lain yang dilakukan pemerintah desa yakni merekomendasikan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Udayana (KKN-PPM Unud) tahun 2016 untuk melaksankan program pendampingan keluarga di Banjar Dinas Taman Darma. “Diantara sekian banyak KK miskin di desa kami, paling banyak itu berada di banjar dinas Taman Dharma. Untuk itulah kami rekomendasikan (mahasiswa) disana”, jelasnya saat pelaksanaan ujian KKN berlangsung, Minggu, (28/08) di SMP Negeri 2 Selat, Karangasem. (sui)

*Penulis merupakan mahasiswa peserta KKN-PPM Unud Periode XIII Tahun 2016 Desa Peringsari, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar