Judul
Buku : Ajik Cok: Lihat, Tiru,
Kembangkan
Penulis : A. Bobby Pr.
Penerbit : Kompas
TahunTerbit : 2015
Jenis
Buku : Biografi
Tebal : xii + 252 hlm.; 14 cm x 21 cm
ISBN : 978-979-709-983-1
“Pada
setiap awal perkembangan semua hanya meniru. Setiap kita semasa kanak-kanak
juga hanya meniru. Tetapi kanak-kanak itu pun akan dewasa, mempunyai
perkembangan sendiri” – Pramoedya Ananta Toer
Petikan kalimat diatas
keluar dari seorang sastrawan ternama, Pramoedya Ananta Toer yang dikutip oleh
penulis untuk menggambarkan ilmu Lihat, Tiru, Kembangkan (LTK) yang diterapkan
oleh salah satu pengusaha Bali, Gusti Ngurah Anom atau yang lebih akrab disapa
Ajik Cok. Sebuah buku biografi yang mengulang kembali kehidupan Cok kecil sampai
berhasil membangun ‘empire’.
Awalnya kehidupan Cok
kecil tidaklah enak seperti saat ini. Cok lahir di keluarga yang kurang mampu.
Ayahnya hanya seorang petani penggarap. Sedangkan ibunya hanya membuat kue-kue
Bali yang penghasilannya juga tak seberapa. Cok merasakan kehidupannnya sangat
berat, terlebih ayahnya juga masih mempunyai enam anak lain, hasil dari
perkawinan istri pertamanya. Sedangkan Cok lahir dari istri kedua. Sangatlah
sulit menghidupi dua istri dan tujuh anak bagi seorang petani penggarap.
Suatu malam ayah Cok
mengatakan, bahwa tak bisa lagi menyekolahkannya. Sebenarnya Cok sudah masuk
SMIP (setara SMA), namun tiada daya akibat umur ayahnya yang mulai beranjak
tua, Cok harus merelakan putus sekolah. Cok diminta bekerja membantu ayahnya di
sawah. Alih-alih bekerja di sawah, Cok malah kabur dari rumah untuk ke
Denpasar. Niatnya untuk kabur ke ibukota provinsi untuk mencari pekerjaan.
Disana Cok mulai bekerja sebagai tukang cuci mobil. Ia bekerja selama satu tahun. Hasil jerih
payahnya digunakan untuk membeli sepeda motor.
Usai itu Cok mencari
pekerjaan lain. Setelah kesana kemari akhirnya Cok dibantu oleh Made Sidharta
yang mempunyai usaha konfeksi. Disana Cok bekerja cukup lama, namun Cok
akhirnya keluar karena ingin membangun konfeksi sendiri. Dari sinilah empire
itu terbentuk. Cok bekerja keras untuk membangun usaha konfeksinya dengan
berbekal pengalaman dari konfeksi Sidharta.
Belum seberapa lama
dengan konfeksinya, Cok malah punya ide untuk membuat usaha oleh-oleh khas
Bali. Pemikiran ini timbul saat Cok berkeliling dengan motor seven ceblok-nya yang tidak sengaja
melewati gedung Art Center. Disana setiap tahun ramai karena ada pagelarana
pesta kesenian Bali. Akhirnya Cok mendirikan usaha oleh-olehnya cukup dekat
dengan daerah tersebut. Usaha ini pun maju, dan Cok semakin mengembangkan
usahanya. Bahkan saat ini sudah memiliki lima cabang dan berbagai usaha lain.
Kini nama ajik Cok sudah tidak asing
lagi di telinga masyarakat Bali.
Buku biografi pengusaha
oleh-oleh Bali ini ditulis oleh A. Bobby Pr. Ia berhasil mengemas cerita Cok
yang sangat unik. Buku ini sangat baik untuk dibaca oleh semua kalangan,
terutama bagi mereka yang ingin menjadi seorang pengusaha. Mereka harus meniru
usaha Cok yang tidak pernah menyerah
dalam membangun usahanya. Di dalam buku ini penulis juga menyampaiakan beberapa
pandangan orang mengenai Ajik Cok. (sui)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar