Rabu, 11 Januari 2017

Terapkan rumus LTK untuk Bangun Empire




Judul Buku      : Ajik Cok: Lihat, Tiru, Kembangkan
Penulis             : A. Bobby Pr.
Penerbit           : Kompas
TahunTerbit     : 2015
Jenis Buku       : Biografi
Tebal               : xii + 252 hlm.; 14 cm x 21 cm
ISBN               : 978-979-709-983-1


“Pada setiap awal perkembangan semua hanya meniru. Setiap kita semasa kanak-kanak juga hanya meniru. Tetapi kanak-kanak itu pun akan dewasa, mempunyai perkembangan sendiri” – Pramoedya Ananta Toer

Petikan kalimat diatas keluar dari seorang sastrawan ternama, Pramoedya Ananta Toer yang dikutip oleh penulis untuk menggambarkan ilmu Lihat, Tiru, Kembangkan (LTK) yang diterapkan oleh salah satu pengusaha Bali, Gusti Ngurah Anom atau yang lebih akrab disapa Ajik Cok. Sebuah buku biografi yang mengulang kembali kehidupan Cok kecil sampai berhasil membangun ‘empire’.
Awalnya kehidupan Cok kecil tidaklah enak seperti saat ini. Cok lahir di keluarga yang kurang mampu. Ayahnya hanya seorang petani penggarap. Sedangkan ibunya hanya membuat kue-kue Bali yang penghasilannya juga tak seberapa. Cok merasakan kehidupannnya sangat berat, terlebih ayahnya juga masih mempunyai enam anak lain, hasil dari perkawinan istri pertamanya. Sedangkan Cok lahir dari istri kedua. Sangatlah sulit menghidupi dua istri dan tujuh anak bagi seorang petani penggarap.
Suatu malam ayah Cok mengatakan, bahwa tak bisa lagi menyekolahkannya. Sebenarnya Cok sudah masuk SMIP (setara SMA), namun tiada daya akibat umur ayahnya yang mulai beranjak tua, Cok harus merelakan putus sekolah. Cok diminta bekerja membantu ayahnya di sawah. Alih-alih bekerja di sawah, Cok malah kabur dari rumah untuk ke Denpasar. Niatnya untuk kabur ke ibukota provinsi untuk mencari pekerjaan. Disana Cok mulai bekerja sebagai tukang cuci mobil. Ia  bekerja selama satu tahun. Hasil jerih payahnya digunakan untuk membeli sepeda motor.
Usai itu Cok mencari pekerjaan lain. Setelah kesana kemari akhirnya Cok dibantu oleh Made Sidharta yang mempunyai usaha konfeksi. Disana Cok bekerja cukup lama, namun Cok akhirnya keluar karena ingin membangun konfeksi sendiri. Dari sinilah empire itu terbentuk. Cok bekerja keras untuk membangun usaha konfeksinya dengan berbekal pengalaman dari konfeksi Sidharta.
Belum seberapa lama dengan konfeksinya, Cok malah punya ide untuk membuat usaha oleh-oleh khas Bali. Pemikiran ini timbul saat Cok berkeliling dengan motor seven ceblok-nya yang tidak sengaja melewati gedung Art Center. Disana setiap tahun ramai karena ada pagelarana pesta kesenian Bali. Akhirnya Cok mendirikan usaha oleh-olehnya cukup dekat dengan daerah tersebut. Usaha ini pun maju, dan Cok semakin mengembangkan usahanya. Bahkan saat ini sudah memiliki lima cabang dan berbagai usaha lain. Kini nama ajik Cok  sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat  Bali.
Buku biografi pengusaha oleh-oleh Bali ini ditulis oleh A. Bobby Pr. Ia berhasil mengemas cerita Cok yang sangat unik. Buku ini sangat baik untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama bagi mereka yang ingin menjadi seorang pengusaha. Mereka harus meniru usaha Cok  yang tidak pernah menyerah dalam membangun usahanya. Di dalam buku ini penulis juga menyampaiakan beberapa pandangan orang mengenai Ajik Cok. (sui)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar